
MENUNAIKAN HAK IBADAH
Dikisahkan, ada seorang hamba yang sedang menunaikan salat. Tatkala sampai pada ayat إِيَّاكَ نَعْبُدُ (iyyāka na’budu), terbesit di dalam hatinya bahwa ia adalah seorang hamba yang benar-benar tulus dalam beribadah. Tiba-tiba terdengar suara tanpa rupa yang berkata,
“Engkau berdusta! Kenyataannya engkau masih bergantung kepada makhluk.”
Mendengar hal itu, hamba tersebut segera bertobat dan mengasingkan diri dari manusia. Kemudian ia kembali melaksanakan salat. Tatkala sampai pada ayat إِيَّاكَ نَعْبُدُ, terdengar lagi suara yang berkata,
“Engkau berdusta! Kenyataannya engkau masih membanggakan istrimu.”
Maka saat itu juga ia menceraikan istrinya. Setelah itu, ia kembali melaksanakan salat. Ketika sampai pada ayat إِيَّاكَ نَعْبُدُ, terdengar lagi suara yang berkata,
“Engkau berdusta! Kenyataannya engkau masih bergantung kepada hartamu.”
Lalu ia segera menyedekahkan seluruh hartanya. Setelah itu, ia kembali melaksanakan salat. Tatkala sampai pada ayat إِيَّاكَ نَعْبدُ, terdengar lagi suara yang berkata,
“Engkau berdusta! Kenyataannya engkau masih bergantung kepada pakaianmu.”
Maka ia pun memberikan seluruh pakaiannya, kecuali pakaian yang sedang dikenakannya. Kemudian ia kembali melaksanakan salat. Tatkala sampai pada ayat إِيَّاكَ نَعْبُدُ, terdengar kembali suara yang berkata,
“Kini engkau benar. Engkau adalah seorang hamba yang sungguh-sungguh dalam penghambaan kepada Allah.”


