
MATERI SEMINAR
ITQONUL QUR’AN BIT TALAQQI WAL MUSYAFAHAH MIN AHLIHI
Menguatkan Kualitas Bacaan Al-Qur’an melalui Talaqqi dan Musyafahah dari Ahlinya
1. Pengertian Talaqqi dan Musyafahah
Pembahasan diawali dengan mengenal dua istilah utama dalam pembelajaran Al-Qur’an, yaitu talaqqi dan musyafahah.
Secara umum, talaqqi merupakan proses menerima ilmu secara langsung dari seorang guru. Dalam metode ini, seorang murid memperoleh ilmu melalui bimbingan, penjelasan, dan pengajaran dari guru yang memiliki keahlian di bidangnya.
Adapun musyafahah memiliki pengertian yang lebih khusus, terutama dalam pembelajaran Al-Qur’an. Musyafahah merupakan proses belajar secara langsung dengan memperhatikan bagaimana guru melafalkan ayat-ayat Al-Qur’an. Murid tidak hanya mendengarkan bacaan, tetapi juga melihat gerakan lisan guru sehingga dapat mengetahui cara pengucapan huruf, makhraj, sifat huruf, serta ketepatan pelafalannya.
Dengan demikian, talaqqi menekankan proses menerima ilmu secara langsung dari guru, sedangkan musyafahah menekankan praktik pembelajaran melalui pengamatan dan pengucapan secara langsung.
2. Keistimewaan Al-Qur’an dalam Proses Pembelajaran
Mengapa pembelajaran Al-Qur’an membutuhkan metode talaqqi dan musyafahah?
Hal ini tidak terlepas dari keistimewaan Al-Qur’an yang memiliki karakteristik tersendiri dibandingkan dengan kitab-kitab lain. Al-Qur’an bukan hanya kitab yang harus dipahami kandungan maknanya, tetapi juga memiliki ketentuan bacaan yang harus dijaga secara terperinci.
Setiap huruf memiliki makhraj dan sifat masing-masing. Begitu pula dengan panjang-pendek bacaan, ketebalan dan ketipisan huruf, serta berbagai ketentuan tajwid lainnya. Semua itu merupakan bagian penting yang harus diperhatikan dalam membaca Al-Qur’an.
Oleh karena itu, mempelajari Al-Qur’an tidak cukup hanya dengan membaca tulisan atau memahami teori tajwid. Diperlukan bimbingan langsung dari seorang guru agar bacaan yang dipelajari sesuai dengan kaidah bacaan yang benar.
3. Landasan Al-Qur’an tentang Metode Talaqqi
Salah satu landasan penting mengenai proses penerimaan Al-Qur’an melalui talaqqi terdapat dalam QS. An-Naml ayat 6.
وَاِنَّكَ لَتُلَقَّى الْقُرْاٰنَ مِنْ لَّدُنْ حَكِيْمٍ عَلِيْمٍ ٦
Artinya:
Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) benar-benar telah diberi Al-Qur’an dari sisi (Allah) Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui.
Ayat tersebut menjelaskan bagaimana Rasulullah ﷺ menerima wahyu Al-Qur’an. Ketika Malaikat Jibril membacakan wahyu, Rasulullah diperintahkan untuk mendengarkan terlebih dahulu dan mengikuti bacaan tersebut setelah selesai dibacakan.
Peristiwa ini memberikan gambaran bahwa proses penerimaan Al-Qur’an dilakukan melalui pengajaran secara langsung, yaitu dengan mendengarkan bacaan kemudian mengikutinya.
4. Rasulullah ﷺ Menerima Al-Qur’an melalui Talaqqi
Metode talaqqi bukanlah metode yang baru muncul dalam tradisi pendidikan Islam. Metode ini telah dicontohkan sejak pertama kali Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ.
Malaikat Jibril diperintahkan oleh Allah Swt. untuk menyampaikan wahyu kepada Rasulullah. Dalam proses tersebut, Jibril membacakan ayat-ayat Al-Qur’an, sementara Rasulullah mendengarkan dan memperhatikan bacaannya.
Setelah Jibril selesai membacakan wahyu, Rasulullah mengikuti bacaan tersebut sebagaimana yang telah diajarkan.
Hal ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran Al-Qur’an tidak hanya dilakukan dengan menerima bacaan, tetapi juga melalui pengulangan dan penyimakan untuk menjaga ketepatannya.
5. Rasulullah ﷺ Mengajarkan Al-Qur’an kepada Para Sahabat
Metode pembelajaran tersebut kemudian diteruskan oleh Rasulullah ﷺ kepada para sahabat.
Beliau membacakan ayat-ayat Al-Qur’an, kemudian para sahabat mengikuti bacaan yang telah dicontohkan. Melalui proses tersebut, Rasulullah dapat menyimak bacaan para sahabat dan membenarkan apabila terdapat kesalahan dalam pengucapan maupun pelafalan huruf.
Setelah mendapatkan pengajaran dan mampu membaca dengan benar, para sahabat turut menghafalkan serta mengajarkan Al-Qur’an kepada generasi berikutnya.
Dari sinilah tradisi pembelajaran Al-Qur’an melalui talaqqi dan musyafahah terus berlangsung dan diwariskan dari generasi ke generasi hingga saat ini.
6. Perbedaan Talaqqi Al-Qur’an dengan Talaqqi Kitab
Mungkin muncul sebuah pertanyaan: bukankah dalam mempelajari kitab-kitab salaf juga terdapat metode talaqqi? Seorang murid belajar langsung kepada guru, membaca kitab di hadapannya, kemudian mendapatkan koreksi apabila terdapat kesalahan.
Lantas, apa yang membedakan talaqqi Al-Qur’an dengan talaqqi kitab?
Perbedaannya terletak pada karakteristik materi yang dipelajari. Dalam pembelajaran kitab, talaqqi digunakan untuk menerima penjelasan, memahami isi, serta mendalami berbagai kaidah ilmu yang terkandung di dalamnya.
Sementara itu, dalam pembelajaran Al-Qur’an, talaqqi dan musyafahah tidak hanya berkaitan dengan pemahaman kandungan ayat, tetapi juga menyangkut ketepatan setiap lafaz dan cara melafalkannya.
Bacaan Al-Qur’an memiliki ketentuan yang telah diajarkan melalui periwayatan yang bersambung. Karena itu, setiap huruf, makhraj, sifat, dan ketentuan bacaannya harus diperhatikan serta dipelajari melalui bimbingan guru yang ahli.
Dengan demikian, seseorang mungkin dapat membaca tulisan Arab secara mandiri, tetapi belum tentu mampu melafalkan Al-Qur’an dengan tepat apabila tidak pernah mendapatkan bimbingan secara langsung.
7. Pentingnya Belajar Al-Qur’an kepada Ahlinya
Dari seluruh pembahasan tersebut, dapat dipahami bahwa mempelajari Al-Qur’an membutuhkan bimbingan seorang guru yang ahli dan memiliki kompetensi di bidangnya.
Sebab, kemampuan membaca Al-Qur’an tidak hanya diukur dari kelancaran seseorang ketika membaca, tetapi juga dari ketepatan makhraj, sifat huruf, hukum tajwid, serta kesesuaian bacaan dengan riwayat yang dipelajari.
Seorang guru bukan hanya menyampaikan teori, melainkan juga memberikan contoh bacaan, menyimak bacaan murid, dan membenarkan kesalahan yang mungkin tidak disadari oleh pembacanya sendiri.
Oleh karena itu, belajar Al-Qur’an secara langsung kepada ahlinya merupakan bagian penting dalam menjaga ketepatan bacaan sekaligus melestarikan tradisi keilmuan Al-Qur’an.
8. Kesimpulan
Metode talaqqi wal musyafahah merupakan tradisi penting dalam pembelajaran Al-Qur’an yang telah dicontohkan sejak masa Rasulullah ﷺ. Melalui metode ini, Al-Qur’an tidak hanya diwariskan dalam bentuk tulisan, tetapi juga melalui bacaan yang diterima, dipelajari, disimak, dan diajarkan secara langsung dari guru kepada murid.
Keistimewaan Al-Qur’an menuntut setiap Muslim untuk tidak hanya mempelajari kandungan maknanya, tetapi juga memperhatikan ketepatan cara membacanya. Karena itu, keberadaan guru yang ahli menjadi sangat penting dalam proses pembelajaran.



