
Pondok Pesantren Tarbiyatul Ulum Gelar Seminar Al-Qur’an, Angkat Tema Itqonul Qur’an bi Talaqqi wal Musyafahah min Ahlihi
Pondok Pekuwon – Pondok Pesantren Tarbiyatul Ulum Pekuwon, Rengel, Tuban, menggelar Seminar Al-Qur’an pada Jumat malam Sabtu, 30 Oktober 2026. Bertempat di halaman yayasan, kegiatan ini mengangkat tema “Itqonul Qur’an bi Talaqqi wal Musyafahah min Ahlihi”, yang menekankan pentingnya mempelajari dan menguasai bacaan Al-Qur’an melalui bimbingan langsung dari para ahlinya.
Seminar dimulai pukul 19.30 WIB dengan pembukaan oleh M. Rivaldi dan Na’im Musyahad selaku pembawa acara. Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan sambutan dari perwakilan pesantren yang disampaikan oleh Ustaz Ubaidillah As’ad Tsani Al-Chamtury.
Memasuki acara inti, kegiatan dipandu oleh Ustaz Abdullah Misbah Maulana sebagai pengantar sekaligus moderator. Materi utama disampaikan oleh Syaikh Dr. Muhammad Anas Naji, seorang ulama, akademisi, dan pakar ilmu tajwid serta qira’at. Dalam penyampaian materi, beliau didampingi oleh Ustaz Muhammad Misbahuddin, Lc., Al-Hafizh, selaku penerjemah.
Dalam pemaparannya, Syaikh Dr. Muhammad Anas Naji menjelaskan pentingnya metode talaqqi dan musyafahah dalam mempelajari Al-Qur’an. Secara umum, talaqqi merupakan proses mengambil dan mempelajari ilmu secara langsung dari seorang guru. Sementara itu, musyafahah memiliki makna yang lebih khusus, yaitu proses pembelajaran secara langsung dengan memperhatikan gerakan lisan dan pengucapan guru, sehingga peserta didik dapat melihat, mendengar, dan menirukan bacaan secara tepat.
Beliau juga menjelaskan bahwa metode tersebut memiliki landasan kuat dalam tradisi pengajaran Al-Qur’an sejak masa Rasulullah SAW. Rasulullah SAW mengajarkan Al-Qur’an kepada para sahabat secara langsung, sehingga mereka tidak hanya menerima bacaan melalui pendengaran, tetapi juga menyaksikan secara langsung bagaimana beliau melafalkan ayat-ayat Al-Qur’an. Dengan demikian, ketepatan bacaan dapat dipelajari dan dijaga melalui proses pembelajaran langsung dari guru kepada murid.
Syaikh Dr. Muhammad Anas Naji sendiri dikenal sebagai salah satu murid utama Syaikh Dr. Aiman Rusydi Suwaid, ulama yang dikenal luas dalam bidang tajwid dan qira’at serta penyusun kitab At-Tajwid Al-Mushawwar. Melalui proses pembelajaran secara talaqqi, beliau mendalami ilmu Al-Qur’an dan memperoleh sanad Qira’ah ‘Asyrah, yakni sepuluh riwayat bacaan Al-Qur’an yang bersambung hingga Rasulullah SAW.
Selain aktif dalam bidang pengajaran, Syaikh Anas Naji juga mengemban amanah sebagai Direktur Dar Ghoutsani Indonesia, sebuah lembaga yang berfokus pada pengembangan pendidikan Al-Qur’an, pembinaan penghafal, serta peningkatan kualitas para pengajar Al-Qur’an. Beliau turut aktif menyelenggarakan berbagai dauroh dan majelis pembelajaran untuk membimbing para ustaz, pengajar, dan penggiat pendidikan Al-Qur’an.
Kegiatan ini diikuti oleh asatidz dan santri putra-putri Madrasah Tajwidil Qur’an Pondok Pesantren Tarbiyatul Ulum, serta masyarakat umum. Kehadiran berbagai kalangan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas ruang belajar dan memperkuat tradisi keilmuan Al-Qur’an di lingkungan pesantren maupun masyarakat.
Sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi narasumber dan penerjemah, panitia juga menyiapkan pemberian sertifikat penghargaan dan cendera mata. Penyerahan penghargaan tersebut direncanakan dilakukan oleh Ustaz Ubaidillah As’ad Tsani Al-Chamtury.
Melalui seminar ini, diharapkan para peserta semakin memahami bahwa mempelajari Al-Qur’an tidak cukup hanya dengan membaca dan mempelajari teori secara mandiri, tetapi juga membutuhkan bimbingan guru yang kompeten melalui proses talaqqi dan musyafahah. Dengan demikian, ketepatan bacaan, pemahaman ilmu tajwid, serta kesinambungan tradisi pembelajaran Al-Qur’an dapat terus terjaga dari generasi ke generasi.



