
Seminar Santri Intelektual: Menjaga Warisan Klasik Dengan Kekuatan Inovasi Digital
Pendidikan Diniyah Formal (PDF) Pondok Pesantren Tarbiyatul Ulum Pekuwon menyelenggarakan seminar bertajuk “Santri Intelektual: Menjaga Warisan Klasik dengan Kekuatan Inovasi Digital.” Seminar ini menghadirkan K.H. Muhammad Dhiya’ul Haq Habibullah, Lc., M.Ag. sebagai narasumber.
Kegiatan dilaksanakan pada Selasa, 21 Juli, pukul 13.45 WIB hingga selesai, bertempat di Aula Pondok Pesantren Tarbiyatul Ulum Pekuwon. Seminar diikuti oleh para santri Pendidikan Diniyah Formal dengan penuh antusias.
Acara dipandu oleh MC, santri aktif PDF, Tya Anando Pramudita. Rangkaian kegiatan diawali dengan sambutan yang disampaikan oleh Ust. Agus Ubaidillah As’at Stani. Dalam sambutannya, beliau mengutip dawuh Sayyidina Ali ra.:
“Ajarkanlah anak-anakmu ilmu yang belum pernah kamu pelajari, karena mereka diciptakan untuk menghadapi zaman yang berbeda dengan zamanmu.”
Beliau menegaskan bahwa pada era digital saat ini, lembaga pendidikan dan para pendidik harus mampu menyesuaikan pola pembelajaran dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar pendidikan Islam.
Memasuki acara inti, seminar dipandu oleh moderator Ust. Abdullah Misbah Maulana. Dalam pemaparannya, K.H. Muhammad Dhiya’ul Haq Habibullah, Lc., M.Ag. menyampaikan materi berjudul “Santri Intelektual: Integrasi Tradisi Klasik dalam Ekosistem Inovasi Digital.”
Beliau menjelaskan bahwa di era disrupsi teknologi, identitas santri mengalami transformasi yang signifikan. Menjadi santri tidak lagi sekadar menguasai literatur klasik di lingkungan pesantren, tetapi juga dituntut memiliki kapasitas intelektual untuk merespons dinamika perkembangan zaman. Santri masa kini diharapkan mampu menjembatani kekayaan tradisi keilmuan Islam dengan kemajuan teknologi modern.
Beliau menegaskan pentingnya mengamalkan prinsip:
“Al-muhafazhatu ‘ala al-qadimi al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadidi al-ashlah” yakni menjaga tradisi lama yang baik sekaligus mengambil pembaruan yang lebih baik.
Prinsip tersebut menjadi landasan agar khazanah intelektual para ulama tetap lestari dan dapat diimplementasikan dalam kehidupan masyarakat modern.
Transformasi Digital sebagai Strategi Pelestarian Ilmu
Menurut beliau, digitalisasi naskah dan berbagai aset pengetahuan merupakan langkah strategis untuk memperluas akses terhadap ilmu. Beberapa bentuk implementasi transformasi digital yang dapat dilakukan antara lain:
- Digital Archiving, yaitu mengalihmediakan kitab dan dokumen ke dalam format digital dengan dukungan teknologi Optical Character Recognition (OCR) agar data tetap akurat dan mudah diakses.
- Manajemen Basis Data, yaitu pengelolaan referensi secara sistematis sehingga proses pencarian literatur dan pemetaan konsep menjadi lebih cepat.
- Diseminasi Inklusif, yakni memanfaatkan berbagai platform digital untuk menyebarluaskan kajian keilmuan kepada masyarakat yang lebih luas.
Teknologi sebagai Fasilitator Produktivitas
Beliau juga menjelaskan bahwa pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT) dapat meningkatkan efektivitas belajar serta produktivitas santri.
Pada metode konvensional, pencarian referensi masih dilakukan secara manual dan penyimpanan data bergantung pada dokumen fisik yang rentan rusak. Sebaliknya, pendekatan digital memungkinkan pencarian literatur secara instan melalui AI, penyimpanan data yang lebih aman dalam basis data terstruktur, serta monitoring berbagai sistem secara real-time melalui teknologi IoT. Dengan demikian, karya intelektual santri dapat memiliki jangkauan yang lebih luas hingga tingkat global.
Membangun Budaya Organisasi Berbasis Inovasi
Dalam membangun ekosistem pembelajaran yang profesional, beliau menekankan pentingnya tiga pilar utama, yaitu:
- Optimalisasi Potensi, yakni memaksimalkan seluruh kemampuan dan sumber daya yang dimiliki secara efektif.
- Produktivitas Kreatif, yaitu menghasilkan karya ilmiah maupun inovasi yang berbasis riset dan mampu memberikan solusi bagi masyarakat.
- Integritas Digital, yakni menjaga etika, adab, serta tanggung jawab moral dalam setiap aktivitas di ruang digital.
Beliau mengingatkan bahwa teknologi hanyalah alat. Adapun visi, nilai, dan etika merupakan kompas utama yang harus menjadi pedoman dalam pemanfaatannya. Oleh karena itu, santri intelektual harus mampu memastikan bahwa perkembangan teknologi tetap diarahkan untuk mewujudkan kemaslahatan umat.
Melalui seminar ini, para santri diharapkan semakin memahami pentingnya mengintegrasikan tradisi keilmuan pesantren dengan inovasi digital. Sinergi antara spiritualitas dan modernitas menjadi bekal utama agar santri tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menjadi pencipta inovasi yang berlandaskan nilai-nilai Islam serta memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat.



