
SEMINAR SANTRI PDF ‘MEMPERTAHANKAN BUDAYA SANTRI’
Semakin berkembangnya era digital pada zaman ini membuat segala sesuatu dapat dilakukan secara cepat dan instan. Hal ini berdampak pada menurunnya minat seseorang untuk menimba ilmu dengan cara manual, khususnya di kalangan santri zaman sekarang.
AI (Artificial Intelligence) sebagai bentuk digitalisasi juga turut memudahkan para pelajar dalam menyelesaikan tugas-tugas ilmiyyah mereka. Salah satunya adalah penggunaan ChatGPT yang sangat membantu pekerjaan rumah maupun tugas-tugas ilmiah santri.
Oleh karena itu, Pendidikan Diniyyah Formal (PDF) As-Syamsuriyah Pondok Pesantren Tarbiyatul Ulum mengadakan Seminar Santri pada Ahad (10/11) dengan tema:
“Mengembalikan Kulturitas Santri di Era ChatGPT.”




Acara ini diselenggarakan dengan harapan para santri dapat menyeimbangkan keilmuan mereka — mempelajari kutubu al-turats sebagaimana budaya santri melalui pengajian langsung di hadapan para masyayikh, sekaligus mampu memanfaatkan teknologi digital secara tepat. Dengan demikian, kedudukan guru sebagai sumber ilmu yang sebenarnya tidak tergeser oleh kemudahan teknologi.
Acara dipimpin oleh santri PDF Moh. Nasril Amri. Setelah pembukaan, dilanjutkan sambutan oleh Mudir ‘Am PDF As-Syamsuriyah, Agus Ubaidillah Asatstani, yang berpesan bahwa seorang santri ketika belajar ilmu harus berhadapan langsung dengan guru, tidak sekadar duduk dan mendengar. Dengan cara itulah seorang santri dapat memperoleh barakah dari para guru.
Memasuki acara inti, seminar dipimpin oleh Ustadz Stawani Irsyad, mahasantri Ma’had Aly As-Syamsuriyah.
Adapun narasumber pada seminar tersebut adalah Kiai Ahmad Dawam Afandi, salah satu masyayikh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang sekaligus pengarang Risalatul Aqlam.
Beliau menyampaikan bahwa pada zaman akhir kelak, banyak orang non-muslim justru menjadi pakar dalam berbagai ilmu dunia. Ketika Allah memudahkan pintu-pintu keilmuan bagi mereka, seringkali mereka lupa terhadap akhirat dan tidak menyadari bahwa mereka hidup di zaman penuh kebodohan.
Beliau juga menjelaskan bahwa ilmu akhirat dapat terbuka (futuh) karena beberapa sebab, yaitu:
- Kebersihan hati dari segala
- Yang dipelajari beruba bahasa arab, atau yang menggunakan bahasa arab (pegon)
- Diambil dari seseorang yang ahli atau profesional dalam bidang keilmuanya
- Belajar dihadapan guru dan satu tempat dengan mereka
- Khidmah kepada guru dengan rasa ikhlas dan jujur
- Meninggalkan maksiat
- Berdoa supaya dibukakan jalan untuk mendapatkan ilmu
Oleh dikarenakan hal ini ayo kita Bersama melestarikan mengaji dan belajar, bermuajjahah



